Senin, 21 Maret 2016

Telat (Ng)organisasi

Assalamualaikum ^,^

Semakin bertambah usia, kok rasanya semakin malas meramu jemari agar menelurkan sebuah tulisan.
Well, yah tulisan yang (seperti biasa) entah akan jadi apa. Jadi teringat akan cita-cita jadi penulis yang (masih) belum tercapai. Setidaknya, menulis apa saja di mana saja bisa mengobati hasrat itu, hehehe. Semoga.

Dan semoga kali ini jelas juntrungannya. Hehehehe. Ada yang tau juntrungan itu apa? Kalau kata orang Sunda mah bisa diartikan "tujuan" nya.
Begitulah kira-kira.
Klak-klik sana-sini, buka-buka folder masa lalu. Aih nemu tulisan semasa SMA dan Kuliah betapa alay nya saya saat itu, alay yang tidak disadari.
Eh tapi, barangkali beberapa tahun yang akan datang saya membaca tulisan ini juga akan mengatakan hal yang sama hehehe. Sudahlah yang terpenting adalah olahraga jari, olahraga rasa.
Organisasi yang sering kita dengar definisinya adalah sekumpulan orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (J.R. Schermehorn). Kemudian dilanjutkan oleh Bapak Chester J. Bernard bahwa pengertian organisasi adalah kerja sama dua orang atau lebih, suatu sistem dari aktivitas-aktivitas (system from all activity) atau kekuatan-kekuatan (strength) perorangan yang dikoordinasikan secara sadar.
Dahulu kala, saya sempat menjadi bagian dari sumber kekuatan dalam sebuah organisasi. A long time ago, when I was junior high school. Namanya OSIS. Sederhana tapi cukup banyak membantu saya mengenal bagaimana caranya bekerja dalam tim, bertukar pikiran, me-lobby sesuatu, mengetahui tentang dasar-dasar kepemimpinan dan masih banyak lagi. Belum lagi pengurus OSIS ini juga terdiri dari kakak-kakak kelas yang menawan dan penuh semangat juang menelurkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi semesta sekolah kala itu.
Menjadi salah satu pengurus di bagan yang terpampang tinggi-tinggi di ruang OSIS adalah kebanggaan tersendiri. Tidak ada beban sama sekali, bahkan jika harus menjadi pengurus OSIS di seluruh sekolah yang ada di muka bumi ini saya siap. Tapi sayangnya hal itu tidak terjadi.
Menyudahi masa-masa sekolah menengah pertama artinya juga menyudahi kegiatan yang berbau organisasi siswa intra sekolah tersebut. Sisa-sisa perjuangan semasa itu menghitamkan kulitku yang sudah hitam menjadi semakin hitam. Maklum saja, masih muda, masih fresh, berangkat pagi pulang sore demi melakukan yang terbaik untuk organisasi tersebut.
Orang tua di rumah ngomel karena menurut mereka kecintaan saya terhadap organisasi sudah diluar batas. Pernah saya jatuh sakit karena marathon mengurusi keperluan masa orientasi siswa. Hal itu yang membuat orang tua saya merasa perlu mengistirahatkan saya dari kegiatan yang berbau organisasi. Saya diberi ultimatum agar kelak saat saya masuk jenjang sekolah menengah atas tidak perlu lagi ikut mengurusi OSIS. Dalam benak mereka, tingkatan sekolah menengah pertama saja sudah menyita waktu saya apalagi organisasi dalam tingkatan yang lebih tinggi.
Tak tega hati menolak perintah orang tua dan karena juga memang demi kebaikan saya, maka saat memasuki dunia sekolah menengah atas saya menjadi siswa yang sepu-sepu (sekolah-pulang, sekolah-pulang) saja. Awalnya terasa baik-baik saja, tetapi lama-kelamaan saya tidak tahan untuk menjadi 'tidak populer' di kalangan siswa. Populer dalam artian, turut berpartisipasi dan berperan aktif mengurusi kegiatan ini itu. Pokoknya seperti yang saya lakukan dulu deh.
Hingga masa kelulusan tiba, benar saja. Aku sangat tidak populer hehehe :)
Nilai sekolahku yang biasa-biasa saja plus tidak ikut ekstrakulikuler menghasilkan siswa yang seperti saya ini lah. Menjadi semakin tidak populer lagi tatkala memasuki dunia kuliah pun, saya tidak ikut organisasi apapun. Mahasiswa kupu-kupu kalau kata orang-orang (kuliah-pulang, kuliah-pulang).

Menyesal? Iya sih. Sedikit.
Memang sudah titah Illahi yang tak bisa saya ubah alurnya. Satu-satunya hal yang bisa kuubah adalah sekarang ini, ya sekarang ini. Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Semua ruang gerak dan hela nafas kita adalah pembelajaran yang selalu bisa dipetik buah hikmahnya.
Pekerjaan saya kini yang me-recall  memori tentang dasar-dasar berorganisasi yang sempat saya pelajari beberapa tahun yang lalu. Semuanya terpakai. Bagaimana bermusyawarah, bagaimana menciptakan keharmonisan dalam team work, bagaimana caranya menjadi pemimpin, bagaimana caranya menjadi penanggung jawab satu kegiatan walaupun beberapa human error kadang terjadi hehehe, setidaknya saya berusaha melakukan apa yang saya mampu. Pekerjaan saya juga memberikan ilmu-ilmu baru yang belum saya dapatkan semasa sekolah menengah atas, tentang organisasi. Ah, rasanya dulu, waktu saya SMA saya tidak pernah membayangkan ternyata bekerja dan menjadi seorang pekerja itu selain untuk memenuhi kebutuhan hidup juga memenuhi kebutuhan otak. Secara terus menerus bekerja, melakukan banyak hal bisa membuat otak semakin terasah dengan baik. Dahulu saya fikir bekerja itu melelahkan dan bikin pusing. Ternyata, tak pantas bagi saya untuk tidak bersyukur mendapatkan pekerjaan ini. Sebuah lingkup kecil yang bertujuan untuk mencerdaskan generasi bangsa. Kami membangun bangsa lewat unit terkecil. Pendidikan. Mengajar. Mendidik anak-anak. Itulah pekerjaan saya kini.




Jadi ternyata Tuhanku, Allah SWT selalu mendidik kita dengan Cara-Nya sendiri.
Hingga menuju liang lahat nanti saya tetaplah seorang siswa, siswanya Allah.
Harus terus mengenyam pendidikan Allah SWT hingga tutup usia saya.
Well, tidak ada kata telat ng(organisasi) bukan? (^,^)v

Meski saya sadar tidak semua manusia ingin menjadi populer seperti saya, tapi setidaknya saya hanya ingin tulisan ini menjadi pengingat bagi diri saya sendiri bahwa,
"lakukan hal-hal baik sesegera mungkin, karena suatu saat kamu akan menyesali hal-hal yang tidak pernah kamu lakukan di masa lampau"




*Especially for my future Children and Grandchildren soon... hehehe
Wallahualam bisshowab... 

Sabtu, 07 November 2015

Teka-teki Sebuah Surat (Robert Stephenson Smyth L Baden Powell)

Robert Baden Powell. Dia pernah menginspirasiku. Ah andai ingatanku setajam silet. Mari kucoba mengingatnya sedikit demi sedikit. Antara tahun 1998-2001 aku menemukan buku usang di perpustakaan sekolah dasarku di Cianjur. Judulnya Bapak Pandu Sedunia. Maklum saat itu Pramuka menjadi ekskul favorit di sekolah setiap hari Jumat sore. Maka saat menemukan buku tentang Bapak yang menjadi pelopor kepramukaan ini aku seperti menemukan sebuah harta karung yang amat berharga.
Isinya sih tentang biografi beliau sejak masa kecil hingga beliau tutup usia. Satu hal yang masih kuingat dan tak sabar ingin kuceritakan disini adalah bahwa sebelum kematiannya. Robert Baden Powell menulis sebuah surat rahasia, surat wasiat. Mohon maaf karena aku tak cukup pandai mengingat isi surat tersebut maka seperti nostalgia, aku menggunakan (lagi-lagi) fasilitas search engine machine dan beginilah suratnya :

"Pramuka-Pramuka yang kucinta :
Jika kamu pernah melihat sandiwara "Peter Pan", maka kamu akan ingat, mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum ia meninggal, karena ia takut, kalau-kalau ia tak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.
Demikianlah halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum akan meninggal, namun saat itu akan tiba bagiku juga. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri …
Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu. Oleh karena itu renungkanlah !
Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.
Saya yakin, bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri. Jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup, jika kamu kelak telah dewasa. Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya !
Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan pada suatu hal daripada mencari kejelekan-kejelekannya. Jalan nyata yang menuju kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar supaya kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba di dalamnya. Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas, karena kamu tak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia. Masukkanlah paham itu senantiasa dalam janji Pramukamu meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi - dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu.

Temanmu,




Robert Stephenson Smyth L Baden Powell 


Hayoo, kamu-kamu yang suka galau, sekarang sudah gak merasa sendirian kan? Ada seorang teman yang menuliskan surat untukmu dan peduli untukmu meski mungkin jasadnya sudah lama menyatu dengan tanah.
Tertarik menulis surat wasiat juga? Apa salahnya, siapa tahu bertahun kemudian menjadi hal yang berguna :) meskipun kita bukan sekelas RSSLBP



*dari perempuan yang sangat mudah murung hehehe.
Ayo kamu!
Iya kamu!

Mari kirim surat rahasia untuk dunia, khususnya, untukku manusia yang mudah murung sepertiku hehehe. Kirim ke emailku yaa...

astiannica@yahoo.com

#karenaWAdanBBMsudahterlalumainstream