Kamis, 19 September 2013

7 Hal yang bikin Jleb



Pertama adalah, helloow saya sudah di tingkat akhir dan sedang di-godok untuk menciptakan masalah, kemudian mengekplorasinya dan kemudian menganalisanya dan kemudian mencerabut benang merahnya dan kemudian jadilah Latar Belakang Masalahnya, dan kemudian satu BAB, dua BAB, tiga BAB, empat BAB, lima BAB, ujian Komprehensif (di hadapkan kepada lima dosen yang siap menerkam saya dengan pertanyaan “apa saja yang kamu tahu tentang A-K-U-N-T-A-N-S-I) dan seterusnya dan seterusnya dan di Sidang, Ya Rabb… mudahkanlaah. SEKERIPSI Hamba besok.
 
Kedua adalah, tiba-tiba saja muncul sederetan impian-impian yang pernah saya tulisin dimana-mana (di kertas gorengan lah, di binder lah, di belakang buku orang lah, di gadget lah, di komputer lah, di dinding lah) saking banyaknya impian jadi selagi ingat main tulis aja sana-sini, alhasil kelabakan karena kebanyakan mimpi yang hanya di ukir indah-indah di mana-mana tanpa melakukan aksi yang bisa mengubah segalanya. Jreng… jreeng.
 
Ketiga adalah, impian-impian yang muncul begitu mendominasi dan menyemangati diri, betapa saat ini saya sudah berada di ujung ujian lagi, dan setelah ujian nanti saya jadi apa dan mau kemana lagi. Well, seperti biasanya sedari dulu kala saya, kita tentunya terbiasa dengan ujian. Ujian kelulusan TK mau masuk SD lah, EBTANAS lah, UN SMP lah, UN SMA lah dan saya for the fifth times akan menghadapi segala tetek bengek sebelum akhirnya diwisuda es satu. Momen seperti ini selalu ajaib, karena selalu banyak ide dan kecerdasan baru muncul di saat-saat terakhir. Payah, lagu lama yang belum berubah. Kreatifitas datang disaat mendesak, saat deadline, sistem kebut semalam, kacau beliau. Seperti dibangunkan dari tidur yang panjaaang… hoaaamh. Ayo kowe kudu semangat !
 
Keempat adalah saya merasa ingin sekali seumur hidup saya untuk selalu belajar. Kalau saya sudah wisuda nanti, berarti saya sudah berhenti merasakan bangku kuliah lagi dong, dan gak ada lagi petuah-petuah dari guru-guru yang hebat yang sering banget memberi saya banyak input yang positif. Fikiran jadi fresh berasa di re-charge ulang. Kemana lagi saya harus mencari guru? Ah iya terkecuali jika saya dapat merasakan jenjang yang lebih tinggi lagi, yakni es dua dan es tiga. (Amiin, insya Allah)
 
Kelima adalah menurut beliau salah satu guru ajaib yang saya miliki dan kenali di kampus tercinta bahwasannya kita harus selalu menjadi makhluk optimistis dikarenakan ‘jika ingin merubah sesuatu, ledakkanlah dengan sesuatu yang lebih besar’. Besar pengorbanannya, besar kerja kerasnya, besar keinginannya, besar kesabarannya, besar keteguhannya, kegigihannya dan ikhtiarnya. High risk high return. Jadi, tolong dikepakkan lagi ya sayap-sayap asa dan direkatkan kembali yang mungkin telah rapuh menggunakan jiwa husnuzan yang tinggi kepada-Nya. Don’t be afraid, gak salah, gak belajar. Hidup ini harus terus bergerak seperti cacing kepanasan, yaa gak tahan lah kalau diam, diam begitu saja tanpa menggarap harapan yang telah lama diam di jiwa. Oo tidak bisa!
 
Ketujuh adalah, jika telanjur terkapar dalam jurang kegagalan, ih itu mah basi. Ciptakan saja opsi-opsi lain. Cari celah, jelajah segala arah. Harus seperti main game lah, jangan mau kalah. R-U-G-I-B-A-N-D-A-R. Mau tidak mau, suka tidak suka besoknya ada hari-hari yang musti dijalani. Ada opportunity banyak, berantakan dimana-mana. Tinggal di ambil menggunakan Strength, atau Super Power yang ada dalam diri masing-masing. Ah Gak ada? Ah Gak bisa?
BISA kok !
 
 
Keenam adalah, jleb dari segala jleb adalah saya dikirimi artikel oleh kawan tentang mengajak kembali perempuan kepada fitrahnya. Yakni menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Itu yang di atas tentang es dua saya es tiga saya dan salah satu impian saya untuk menjadi superwoman dalam bidang yang sedang saya pelajari saat ini sepertinya serasa akan sia-sia. Eh siapa bilaaaaang !
Menjadi madrasah di rumah bagi anak-anaknya memang tak butuh belajar? Beuh harus ekslusif malah, harus cerdas. Caranya? Ya belajar.
Maka mari ubah mainstream tentang
 
kuliah=naik jabatan=naik gaji (duniawi)
 
dengan
 
kuliah=naik jabatan=naik gaji (ukhrowi) ++
 
Karena masih banyak sekali desas-desus di kiri kanan saya yang berkata “eh sayang lho kamu kuliah kalau cuman kembali ke dapur”
Jangan salah, saya sih maunya main cantik, walaupun cuman ke dapur yah harus berilmu dong. Bagaimana cara menghitung persediaan bumbu-bumbu di dapur lah, agar suami kelak tidak cemberut karena istrinya belanja bulanannya seminggu sekali, hihihi. Pokoknya akan saya kait-kaitkan dengan Akuntansi (spesialisasi saya saat ini) *That’s just a little part from my real Big DREAMS*
 
Dan tidak akan pernah ada ilmu yang sia-sia.
 
Sekarang saatnya gemar menabung ilmu, sembari menunggu si tampan yang lagi Allah umpetin buat saya kelak jika sudah saatnya *tersenyum menganga*
Saya siap kembali kepada fitrahnya, saya siap :D
 
 
Catatan Si Asti yang sedang berduka karena kebanyakan nonton filmnya daripada mbacanya akhir-akhir ini sehingga otaknya rada menumpul -__- ini mbahaya, tak boleh dibiarkan
 
 
 
 
Djakarta sembilan belas September dua ribu tiga belas.
 
 
 
 
 
 
berikut link yang bikin lebih Jleb lagi...