Kamis, 30 Agustus 2012

Boat Paper

Karena lagi-lagi bingung mau mengisi apa disini, dengan terpaksa saya akan ceritakan kisah indah tentang perjuangan menonton film Indonesia terbaru yang berjudul jreng jreeeng :
PERAHU KERTAS

Film ini besutan sutradara Hanung Bramantyo tapi Dewi Lestari punya pokoknya karena dia penulis novelnya terdahulu, dan juga karena ketika menontonnya saya merasa membaca ulang novelnya kembali, persis. Meski seperti biasanya ada part-part dari novelnya yang kadang tidak bisa digambarkan secara visual oleh sutradara manapun, keuntungan membaca memang kita bisa bebas dan liar menafsirkan bacaan di alam pikiran kita sendiri, jadi akan lebih seru tentunya.

Sejak saya masih 2 SMA, kira-kira empat tahun yang lalu dari tahun 2012 ini, novel ini udah nge-trend dan diidam-idamkan di kalangan murid-murid yang hobi menghabisi novel di jam istirahat pertama maupun kedua. Apalagi dulu sekolah saya dilengkapi fasilitas pesawahan dan kolam ikan yang cukup luas (sayang tidak bisa berenang disitu karena isinya ya ikan semua dan airnya cokelat kayak susu Milo) jadilah mereka yang menggeluti dunia bacaan menjadikan tempat itu sebagai wahana favorit, kalau tidak salah saya masih ada foto pemandangannya, tapi ini dua tahun yang lalu ya, sekarang sudah berubah atau tidak saya belum tahu karena belum pernah ke sekolahan lagi deh :D


Nah, waktu itu saya punya novelnya yang sejenis versi trialnya gitu deh, itupun saya dapatkan secara cuma-cuma dari internet dan tidak tahu awalnya kalau penulisnya adalah Dewi Lestari yang saat itu yang saya kenal tentang dia hanyalah statusnya sebagai istrinya Marcell (kebanyakan nonton gosip waktu itu, huhu) karena kebetulan suka banget sama lagunya yang judulnya Firasat, hehehe.

Halaman demi halaman saya nikmati sampai akhirnya bisa menghabiskan bacaan tersebut seharian. Puas banget diajak ke mana-mana sama Dewi Lestari lewat tulisannya, diombang-ambing ikut kesel karena Keenan sempat ada love affair lah sama Luhde, huwfh... dan Kugy yang malah sama Remi, eh bentar-bentar, yang tentang ini nanti dulu deh ceritanya, karena sebenarnya novel Perahu Kertas yang saya dapatkan di internet yang versi trial itu hanya setengahnya saja, huaaaa sedih (yaa namanya juga gratisan hehehe) jadi saya juga belum paham betul bagaimana akhir ceritanya. Tapi karena tidak punya uang, saya tidak membeli novelnya secara utuh, solusinya hanya mengharapkan ada bala bantuan dari teman yang punya novel tersebut untuk meminjamkan kepada saya. Namun tragisnya semenjak tahun 2008 terakhir kali saya membaca yang versi trialnya, tidak ada satu teman pun (se-SMA Negeri 1 Cianjur) yang terlihat menenteng novel tersebut yang bisa saya todong dengan kata-kata maut seperti ini :
"Hai baca apa sih, boleh liat gak judulnya, oh keren banget kalau kamu udah baca aku pinjem yaaa..."




Maka jadilah hingga saat ini saya tidak menuntaskan rasa penasaran saya terhadap novel yang satu ini. Meski sebenarnya pas zaman kuliahan sekarang ini (kemarin waktu semester dua, waktu lagi nyari referensi buat mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi) sempat bersitatap dengan novel tersebut, dan membolak-balikan covernya, mengelus-elus tulisan di covernya, lalu melihat harga yang di banderol di balik novel yang saya idam-idamkan itu. Kemudian menelan ludah karena tidak ada anggaran khusus untuk membeli novel (lagi-lagi).

Lalu di bulan ke delapan kalender 2012 ini muncullah filmnya di bioskop yang seumuran denganku alias 21. Dan dengan penuh antusias berharap film ini dapat membayar lunas rasa penasaranku. Maka dari itu, sore itu sepulang kerja, sehabis shalat maghrib, sehabis buka puasa (puasa qodo) dengan membawa serta teman sekosan ke sebuah Mall di daerah Jakarta Utara tepatnya La Piazza menggunakan sepeda motor nan indah milik saya seorang yang suka diprotes habis-habisan sama orang yang minta dibonceng karena suara knalpotnya yang menderu membelah kota Jakarta (selidik punya selidik motor ini knalpotnya katanya sih di-bobok jadi suaranya kenceeeng banget sama pemilik sebelumnya).

Jreng-jreeeng, "Pintu teater tiga telah dibuka, para penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan memasuki lapangan upacara dan mengambil alih komando..." Lhooo....?!

Selama pemutaran film berlangsung saya tersepona melihat akting 'unyu' nya Maudy Ayunda dan Adipati Dolken serta tak ketinggalan Reza Rahadian yang datang di saat-saat terakhir. Maudy jadi Kugy, Adipati jadi Keenan dan Reza jadi Remi. Mau tau ceritanya? Baca atau nonton sendiri aja deh yaaa, hihihihi...

Yang jelas ternyata film ini belum jua melunasi rasa penasaran saya karena filmnya dibagi menjadi dua bagian, mungkin.

Dan bagian pertama ini sama persis dengan novel trialnya yang saya baca, huaaaaaaaa... jadi besok-besok saya Insya Allah mau nonton lagi deh, terlanjur tersihir aktingnya Maudy Ayunda yang kelihatan natural banget meranin Kugy-nya.

Sekedar bocoran, bagi yang belum pernah membaca ataupun menontonnya Kugy adalah pacar Ojos dan sahabat Keenan. Kugy putus sama Ojos karena perbedaan pendapat (ahaha klise). Keenan tadinya mau pacaran sama penulis tulisan ini :D Lhooo?! Hehehe Kugy dan Keenan belum tertakdirkan bersama-sama dalam ikatan cinta (ahaay) Hingga akhirnya Kugy ketemu Remi yang perfect dan Keenan ketemu Luhde yang (menurut saya) aneh. Cerita belum selesai karena Kugy ketemu Keenan lagi, dan belum tau deh bagaimana kelanjutannya.

Gak ngerti kan? Hehehe... Maaf yah saya kehilangan kemampuan untuk mendeskripsikan sesuatu dengan baik, tapi yang jelas percaya sama saya deh film ini, apalagi novelnya sangat direkomendasikan untuk ditonton dan dibaca. Kalau tidak, bagaimana mungkin saya menuliskannya disini :)

Silahkan menyimpulkannya sendiri.

Ini ceritaku, mana ceritamu?












Oya mohon maaf gambar-gambar yang berkaitan dengan Perahu kertas saya peroleh dari mbah google.