Jumat, 12 November 2010

Alina, hanya ingin berjilbab.


Alina, hanya ingin berjilbab.

oleh Annisa Ukhtyasty pada 04 November 2010 jam 22:14

Malam, kini terasa begitu sesak bagi Alina. Perdebatan yang tak kunjung usai, gumamnya. Ini masih mengenai hijabnya, keluarga besarnya masih belum memberi nafas lega baginya, selama ini ternyata hanyalah angan kosong belaka. Alina mengutuki dirinya sendiri, betapa susahnya ia menembus benteng yang kokoh di hati mereka, berbagai cara telah ia lakukan, mereka adalah orang tuanya sendiri. Alina tahu, kalau saja perusahaan besar yang dikelola ayahnya selama 6 tahun terakhir ini tidak mengalami pailit, orangtuanya tentu akan bebas me-merdeka-kan anaknya, bebas perpendapat, bebas berekspresi, bebas berargumentasi, namun tetap ada pada jalur yang benar. Alina meremas ujung jilbabnya, wajahnya nampak berkerut disana-sini, tak karuan, tak tentu, bimbang, gundah. Sesekali ia melihat layar telepon selularnya, ia buka--ia baca berulang-ulang pesan singkat dari ibundanya.

“Ibu yakin, ini yang terbaik bagi kita, kita tidak ada pilihan lain, hanya kamu yang bisa membantu Ayah, pikirkan ini semua Alina… ”

Sms terakhir dari sang ibu dari rentetan sms sebelumnya. Alina sengaja tidak membalasnya lagi, sepertinya tebing itu masih sulit dijangkau, namun dalam lubuk hatinya secercah keyakinan itu ada. Yakin, bahwa ini adalah terbaik bagi Alina dan untuk kedua orangtuanya. Pasti.

Alina mantap berjilbab secara syar’i ketika ia duduk di bangku kelas 1 SMA. Hal ini membuat geger keluarga besar “Danurwindu”, tudingan-tudingan miring mencuat ke permukaan. Alina bergidik sendiri melihat keadaan keluarga besarnya. Apa yang salah dengan jilbabnya? Pak Sudibyo, ayahnya mulai merasakan namanya dan nama anaknya disebut-sebut dalam setiap percakapan bernada sinis. Pak Sudibyo mulai gerah dengan keadaan. Sebenarnya mereka menganut agama Allah, agama Islam. Tetapi masalah hijab, entahlah mereka pura-pura tidak paham atau memang tidak mau memahami. Perintah mengenakan jilbab bagi perempuan adalah sama wajibnya seperti melaksanakan ibadah sholat. Alina yang sengaja sesekali mengajak ayah dan ibunya pergi ke pengajian, dan Alina yang meminta khusus kepada sang Ustadz untuk memberikan ceramah mengenai perintah mengenakan hijab. Alina masih gagal, ia ditolak. Ada saja alasannya, mereka bilang,

“alah, yang terpenting itu sholatnya dan selalu beramal baik, siapa yang menjamin Albert Einstein akan masuk neraka meski dia seorang kafir, lalu percobaannya yang sangat berguna bagi perkembangan dunia? Bagaimana? Allah pasti memiliki penilaiannya tersendiri, tak usah kita risau, maka tak perlu direpotkan kita memakai jilbab, yang penting hati ini harus kita beri hijab, penilaian Allah adalah Maha Adil, banyak perempuan berjilbab tapi tidak mencerminkan perilaku Muslimah, maka apakah ia akan selamat dari api neraka? Dan kita, meskipun tak berjilbab, tetapi cerminkanlah jiwa Muslimah dalam diri kita” ujar ayahnya.

Kemauan Alina tidak bisa ditentang oleh orangtuanya, Alina tetap istiqomah memegang keyakinannya. Sang ayah berulang kali mengingatkan Alina untuk segera melepaskan jilbabnya, demi nama baik keluarga besar “Danurwindu”-- terkadang dengan nada mengancam, namun Alina sering lolos karena argument nya yang berpedoman teguh pada Al-Qur’an, meski ayahnya kesal, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Di luar sana, ayahnya semakin dipanaskan oleh desas-desus tentang anaknya, “Alina yang menganut Aliran Sesat”.

Seiring waktu, ayahnya mulai terbiasa, ia tidak mau lelah memikirkan masalah sepele seperti ini, ia tahu, Alina akan bersikukuh memakai jilbab, melawannya dengan kalimat-kalimat Al-Qur’an, ia mengaku kalah, karena ia juga beragama Islam, Al-Qur’an adalah kitabnya juga, katanya sih, meski tidak se-Islam itu, ia tetap berhak berlomba menggapai surga Firdaus yang dijanjikan-Nya, dengan cara apapun, yang penting Islam, Allah Maha Adil kok, dan pekerjaan di perusahaan nya jauh lebih penting, fikirnya. Ada-ada saja.

Keadaan berjalan normal, ketika Alina melejitkan prestasi akademiknya di sekolah, desas-desus itu reda dengan sendirinya, Pak Sudibyo, kembali jumawa. Ia menjadi ‘tidak keberatan’ dengan penampilan Alina. Keluarga Danurwindu, mulai menerima perilaku Alina yang dianggap “aneh”. Alina bebas mengepakkan sayapnya. Ia senang, meski belum sempurna, akan lebih bahagia setelah ibunya yang cantik jelita, mengenakan jilbab yang sama sepertinya. “ah, ibu, ku yakin kau akan seribu kali lebih anggun jika memakai jilbab, bidadari akan cemburu padamu bu…” gumam Alina. Dan terbukti, tidak ada yang salah dengan hijab indah nan nyaman ini kan? Lanjutnya dalam hati.

Tiba ketika Perusahaan Pak Sudibyo harus mengalami pailit, rumah yang mewah di kawasan perumahaan elit, kini menyusut dan berpindah lokasi ke perumahan sulit. Keluarga Besar Danurwindu turut prihatin mendengarnya. Dan pasa saat itu Alina harus memasuki perguruan tinggi, biaya alokasi pendidikan Alina pun terkuras habis untuk membayar hutang disana-sini. Ayahnya amat terpukul, namun pak Sudibyo adalah tipikal yang pantang menyerah, berusaha dibangunnya kembali puing-puing kemakmuran hidupnya, ia mulai dari nol. Alina sendiri, ia selalu bersabar dan malah membantu menguatkan ayah dan ibunya. Cobaan seperti ini justru membuat Pak Sudibyo semakin erat berkomunikasi dengan Rabb-nya, ia sadar selama ini ia ‘agak’ tersesat menuju Hati-Nya. Alina berucap syukur berulang kali, Alhamdulillah ‘ala kuli haal.

***

Pagi yang cerah itu datang lagi, Alina dan kedua orang tuanya masih berkempatan membuka mata, untuk menantang matahari, semua ini Allah yang telah mengatur-Nya sedemikian rupa. Dan kedatangan “Tante Zetty” pagi ini ke rumahya, juga atas kehendak-Nya.

Ide dari adik kandung Pak Sudibyo, ‘Tante Zetty’, untuk bersedia membiayai pendidikan Alina, tentu disambut baik oleh kedua orangtuanya, Pak Sudibyo merasa impian yang sempat sirna, kini terbuka kembali, ia ingin sekali anaknya mengenyam bangku kuliah. Sementara itu, Alina masih menimang-nimang. Kalaupun ia mengambil kesempatan ini, tetapi tidak sesuai dengan cita-citanya. Jurusan Ekonomi-lah yang ditawarkan Tante Zetty. Tidak hanya itu, tante Zetty menawarkan pekerjaan yang menggiurkan, di perusahaannya. Pak Sudibyo semakin ‘bersemangat’ menyarankan Alina, menerima kesempatan itu. Bahkan terkesan semakin memaksa,

“Nak, Ilmu tidak akan berat kamu bawa kemanapun, cintailah Ilmu apa saja, maka kamu akan menemukan dirimu disana… mungkin ini sudah menjadi takdir untukmu, terimalah, ini kesempatan yang bagus…” ujar Pak Sudibyo.

“Ayah, Ibu, Tante Zetty, terimakasih atas kesempatan serta dukungannya, tapi bolehkah Alin bertanya dulu pada Allahu Rabbi?” jawab Alina.

Senyum tipis tersungging di bibir tante Zetty, lebih terkesan sinis.

“Repot sekali kamu Lin, aku ini datang kemari pun adalah atas panggilan Allah, untuk apa kamu meragukan lagi… ada-ada saja kamu Alin, tapi ya sudahlah terserah apa katamu, tanyakanlah saja dulu, aku masih memberimu kesempatan…” tukas Tante Zetty. Sementara itu, Pak Sudibyo memerah, mungkin menahan malu, atau marah atas sindiran Zetty, adiknya. Hanya dia sendiri lah yang tahu.